03 January 2018

Catatan Tanpa Judul

www.google.co.id
Ini kisah anak kecil dari sebuah desa di ujung negeri, seorang anak yang resah akan daya upaya untuk bangkit dari ketiadapunyaan, dengan latar keluarga yang banyak tidak memiliki latar pendidikan yang memupuni, menjadi motivasi untuk merangkak hingga akhirnya dapat berdiri sendiri, dan sekarang anak itu berada dalam rel untuk dapat berjalan menjadi dirinya sendiri.

Lingkup sosialnya tiada yang tahu bagaimana masa kecilnya, kerja kerasnya bersama orang tuanya membangun gubuk mereka saat ini, waktu itu dia memang masih kecil tapi masa-masa susah itu tidak akan pernah hilang dari memorinya, terekam sangat kuat, seakan otaknya mampu menyaring mana yang harus diingat dan tidak. Semua yang dimiliki orang tuanya ditumpahkan kepadanya, semua yang dia butuhkan diberikan, anak ini pandai sekali menyelimuti ketiadapunyaan nya dengan kecukupan didepan lingkup sosialnya.

Sekarang anak ini lagi mengisi bekal, bekal yang menjadi solusi untuk keluarganya, tiada terbesit kehidupan seperti sebayanya yang lain, tapi dia mampu menyelimutinya agar semua yang jadi keterbatasan tersebut tidak terlihat.

Banyak sekali yang tersakiti dari ucap sembilu lidahnya, tapi banyak juga yang merindukannya, seperti itu berita angin yang kudapat. Dibutuhkan malam yang panjang untuk mencurahkan kisah anak ini sebenarnya, butuh waktu lama untuk mengenang masa-masa pahit itu, dan sorot memori ku akan cukup tersiksa untuk mengingatnya.

Mungkin aku harus istirahat dulu, dan berharap bahwa semesta menuangkannya dalam mimpi ku agar aku dapat mengingat dan menuliskannya kembali, dari kota yang panas tetapi aku berada di koordinat yang dingin sekali, membuatku menggigil dan susah berfikir, mungkin karena tiada kopi. Jam di sudut laptop ku menunjukkan pukul 22.45 WIB, sudah saatnya aku istirahat, karena besok akan jadi hari yang panjang untuk kembali dengan aktivitas-aktivitas usang.

Sebelum ditutup, aku ada ingat sesuatu dimomen perkenalan anak kecil itu kepada kerabat barunya, dia mengatakan namanya al-fatih, ntah itu nama akrab saja atau namanya beneran aku tidak tau, tapi ya seingatku dia dipanggil fatih.

Sedikit melanjut kisah.. Semangat..semangat..semangat hanya kata itu yang terekam oleh tangisku ketika mengingat dia waktu itu. Bermain bola pukul 12.00, dilanjutkan bermain  kelereng, sorenya terkadang mengejar layangan jika lagi musimnya, atau memancing ikan, semua dilakukan dengan tulus dan tawa, mungkin hal itu tidak pernah dirasakan oleh anak-anak komplek jaman now, tapi disitulah nikmatnya seni pertemanan di desa, tidak seperti kota yang kulihat saat ini.

Aku kembali lupa, memori ku tidak bisa menyambung utuh keseluruhan cerita, aku akan sambung ntah kapan aku mengingatnya dan ingin menceritakannya. Mataku sungguh sangat berat, seperti ada yang menggantungi untuk membujukku terlelap sambil menikmati dinginnya malam. Sebelum tidur aku akan posting di blog, cerita abstrak tanpa awal dan akhir ini. Selamat menikmati bagi yang memahami.. J

No comments:

Post a Comment

Berikanlah Komentar Yang Positif dan Membangun. Happy Blogging gaes !! :)