23 December 2017

Rekam Desember

Matahri telah tenggelam, tak menyisakan senjanya sedikit kepada ku, terlalu lama aku menunggu fajar tuk melihatnya kembali, karena kesalahan dan kesombongan yang terus kuulangi terjadi lagi. Pesimisnya aku akan hasil, takut, gelisah, teringat mereka yang memposisikan aku dimana aku berada sekarang. Terlalu banyak yang dikorbankan.

Aku lari untuk seminggu, untuk membalas dendam di permulaan pagi itu, aku merasa berhasil, tetapi seperti sia-sia, masih ada rasa tidak puas akan karya itu. Sekarang hanya tinggal menyelesaikan serpihan-serpihan kayu yang tergeletak, hingga akhirnya tulisan ini dibuat, serpihan itu telah terselesaikan.

Tapi ada rasa gelisah kembali, bukan karena fajar terlalu lama kembali, tetapi ada hal lain yang menyapaku dikala fajar tadi, membuatku terus dihantui akan hari ini, dia mata kiri ku yang sedang tidak baik, aku mengkhawatirkannya, karena kami belum bisa lepas dari mata kiriku, tidak cukup kami bisa bertahan dengan mata kananku, terlalu berat bagi kami, sedangkan mata kananku itu tidak seperti dulu, dia mulai lambat, dia mulai berat dalam menjalani hari.

Doa ini berubah secerca kilat menyambar, bukan fajar yang lama kembali yang kudoakan, tetapi mata kiri ku, aku mau dia pulih, dia bisa kembali berirama seperti dulu bernyanyi dengan hari, karena kami belum bisa jalani hari tanpa mata kiri. Aku bisa berhenti saat ini juga bila mata kiri ada masalah. Hanya gelombang doa yang bisa terus ku kirim tiada henti. Izinkan aku menjaga mata kanan dan kiri ku selama lamanya, sebagaimana mata-mata ini yang mentelatenkanku selama ini, izinkan aku membalas belas kasih mata ini.

No comments:

Post a Comment

Silakan Berikanlah Komentar Yang Positif dan Membangun. Happy Blogging gaes !! :)