10 April 2010

Perlunya Kebijakan dan Teknologi Informasi untuk Kebangkitan Industri Kreatif Nasional

INDUSTRI kreatif di Indonesia merupakan industri baru yang berlandaskan inovasi dan
kreativitas sehingga memaksa produsen dalam industri ini untuk terus berinovasi dalam
mengembangkan produk ataupun jasanya. Era krisis keuangan global yang terjadi saat ini
merupakan salah satu penyebab perlu dikembangkannya industri kreatif ini secara serius.
Industri kreatif merupakan cerminan industri dari usaha kecil dan menengah. Kota Bandung dan
Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota yang mengawali industri kreatif ini, melalui inovasi
yang dilakukan anak-anak muda yang memiliki bakat seni yang kemudian disalurkan menjadi
industri-industri dalam negeri hingga bisa mencapai pasaran dalam bahkan luar negeri.
Sebutlah usaha distro (distribution outlet) dan clothing yang marak di Kota Bandung, yang
dirintis oleh pengusaha-pengusaha muda.
Perhatian pemerintah terhadap industri ini terbilang sangat kecil dibandingkan dengan
perusahaan multikorporat. Kebijakan yang tidak berpihak terhadap pengusaha-pengusaha
muda ini tidak diikutkan dengan pembuatan regulasi yang menguntungkan bagi mereka.
Penguatan-penguatan distribusi akhirnya kembali dipegang oleh perusahaan-perusahaan besar
yang justru memberangus semangat kreatif pengusaha muda tersebut.

Lintas usaha

Kebijakan yang selama ini ada masih menggunakan sistem kebijakan yang sangat lama
bahkan sudah kedaluwarsa jika dilihat dari pasaran yang sudah berkembang. Bandung sebagai
salah satu kota yangmenggantungkan pendapatannya dari jasa dan produk hilir, merupakan
tempat tujuan wisata dalam dan luar negeri. Penulis pada 2008 lalu melakukan observasi
terhadap penerbangan Bandung-Kuala Lumpur yang selalu penuh, bahkan pada April yang
akan datang penerbangan maskapai ini akan ditambah menjadi tiga kali jadwal penerbangan.
Ini merupakan gejala yang baik untuk meningkatkan industri kreatif tanah air.
Kebijakan dalam bentuk promosi lintas usaha dapat diperkenalkan ke negara lain atau
memberikan insentif berupa pemotongan atau pembebasan pajak bagi para pengusaha di
sektor industri kreatif ini. Promosi ini dapat dilakukan pemerintah daerah dan pemerintah pusat
untuk memantapkan perekonomian dalam negeri. Promosi juga dapat dilakukan dengan
memasarkan tenaga kreatif ini untuk bekerja di luar negeri. Penanaman investasi manusia di
luar negeri bisa memancing industri asing untuk menarik tenaga kerja berketerampilan dari
dalam negeri.

Promosi dalam bentuk-bentuk media masih diperlukan sebagai salah satu bentuk promosi yang
memadai dan murah. Menggaet industri media periklanan dan industri media massa
merupakan langkah awal untuk memajukan industri ini sebagai salah satu tren industri di dunia
global. Kebijakan berupa promosi ini harus dimulai dengan mengintegrasikan sistem
perusahaan penghasil barang atau jasa dan perusahaan distribusi dengan perusahaan media
periklanan. Integrasi ini bisa dimulai dengan pemberdayaan pengusaha dengan modal kecil di
industri kreatif dan media oleh pemerintah daerah. Inventarisasi pengusaha-pengusaha dalam
industri kreatif adalah langkah awal yang baik untuk mengetahui kekuatan sebenarnya dari
industri ini dan menghitung pertumbuhan serta pengurangannya setiap tahun.

Hambatan

Hambatan industri kreatif ini bukan hanya datang dari bentuk kebijakan, tetapi juga dari para
pengusaha itu sendiri. Mereka dinilai belum memiliki mental entrepreneur yang profesional,
seperti tata kelola keuangan yang masih menyatu dengan kebutuhan harian kemudian
manajemen kepegawaian yang berdasarkan prinsip pertemanan tanpa adanya koridor hukum
yang jelas dalam mengatur kepemilikan dan pembagian untung, sehingga ketika terjadi pecah
usaha, industri tersebut akan mati seiring dengan pecahnya usaha tersebut. Usaha-usaha yang
dilakukan para entrepreneur muda ini harus dilandasi juga dengan mental yang kuat dengan
motivasi memajukan usaha yang dirintis dari awal.
Pemberian pelatihan melalui pelatihan industri kreatif perlu digalakkan pemerintah dan dunia
pendidikan seperti universitas. Bentuk pelatihan berupa pelatihan keterampilan dan manajemen
perusahaan profesional sangat penting untuk mempertahankan kondisi pengusaha-pengusaha
di industri kreatif. Perlu dibentuknya asosiasi pengusaha industri kreatif untuk memperkuat
usaha ini sebagai salah satu bentuk usaha baru yang menekankan kepada inovasi dan
kreativitas pengusahanya. Industri kreatif berbasiskan seni yang memang dimiliki masyarakat
muda Indonesia merupakan suatu bentuk inovasi baru di saat terengah-engahnya
industri-industri besar di Indonesia saat ini. Hambatan yang didapat dalam keberlangsungan
industri kreatif ini antara lainnya ialah pemerintah belum memandang serius industri kreatif di
Indonesia sebagai industri yang berpotensi mendatangkan devisa untuk Indonesia.
Kebijakan terintegrasi yang harus dibuat antara lain melindungi kreativitas anak-anak muda
Indonesia ini dengan memberi kemudahan untuk mendaftarkan kreativitasnya sebagai hak cipta
yang kelak boleh dipasarkan secara massal. Kebijakan terintegrasi ini bukan hanya untuk
sektor manufaktur kecil dan menengah seperti distro dan clothing, tetapi juga sektor industri
musik indie dan juga sektor seni murni seperti lukisan, handycraft, industri kreatif berbasiskan
lingkungan seperti seni merangkai barang-barang bekas, dan industri lain yang memiliki basis
inovasi dan kreativitas.

Solusi

Kebijakan berbasis industri usaha kecil dan menengah ini memerlukan pasar yang besar di
dalam dan luar negeri. Industri kreatif di Bandung perlu dijadikan salah satu tren wisata Visit
Indonesia 2009. Kebijakan ini dimulai dengan membentuk satu dewan atau lembaga, atau apa
pun namanya, yang bisa mewadahi industri-industri ini terutama pemberian bantuan-bantuan

dalam memasarkan produk dan jasanya ke dalam dan luar negeri. Perlindungan hukum berupa
hak cipta juga penting karena beberapa industri kreatif Indonesia sering diserobot negara lain
bahkan diklaim sebagai industri mereka. Pemberian kemudahan infrastruktur dapat berupa
bantuan mesin-mesin atau alat-alat industri kreatif, sedangkan pemberian insentif berbasiskan
bantuan modal usaha atau pemberian pelatihan keterampilan yang berkelanjutan (sustainable).
Integrasi beberapa komponen industri kreatif juga merupakan aspek penting dalam perolehan
hasil kreativitas yang betul-betul baru dan belum ada di dunia. Sebagai contoh, band indie di
Indonesia yang dilandasi dengan semangat membangun industri musik tanah air. Industri musik
ini menjadi salah satu bentuk industri yang jarang diperhatikan oleh pemerintah daerah.
Pemerintah daerah bisa memulai dengan pendataan potensi band atau studio musik yang
menjamur di Bandung dan Jawa Barat, hingga kemudian menjadi salah satu industri yang
benar-benar besar.
Kebijakan lainnya ialah dengan membangun suatu pasar seni yang bisa menampung aspirasi
kaum muda untuk memasarkan produk dan jasanya. Pasar seni ini di negara-negara maju
merupakan salah satu pasar yang bisa menampung produk-produk industri kreatif. Sebagai
contoh, di Kuala Lumpur ada satu pasar seni yang memang tujuannya meningkatkan industri
tanah air mereka, walaupun tak pelak lagi di dalamnya penuh barang industri kreatif dari
Indonesia.
Pasar seni ini bisa dikolaborasikan dengan menampilkan band setempat, setiap minggu atau
dua kali dalam satu bulan. Produk-produk yang masuk ke pasar seni itu sendiri harus
didaftarkan sebagai produk setempat yang sudah memiliki hak cipta, untuk menjaga agar pasar
ini tidak menjadi pasar biasa.
Terakhir, saya berharap industri kreatif di Bandung bisa menjadi tolok ukur industri kreatif tanah
air, yang saat ini sedang mengalami guncangan ekonomi yang dahsyat, dan bisa
memartabatkan kembali bangsa ini sebagai bangsa besar yang memiliki inovasi dan kreativitas.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai produk dalam negerinya sendiri.***
Penulis: Dosen Administrasi Negara, FISIP, Unpad. Anggota Asosiasi Sosiologi Internasional
(ISA), Barcelona, Spanyol, dan sedang menempuh pendidikan S-3 di University of Malaya,
Kuala Lumpur, Malaysia.

Seperti yang kita ketahui Industri kreatif menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia, karena punya potensi besar dalam memberi kontribusi bagi perekonomian negara.

Bukan hanya menyumbang bidang ekspor, industri kreatif juga mampu menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan nilai produk domestik bruto. Satu lagi, industri ini dinilai lebih ramah lingkungan karena sangat mengandalkan aspek human capital, sumber daya alam yang terbarukan.

Dan di bawah ini saya akan menjelaskan sedikit tentang TI dan Industri Kreatif yang berhasil saya kutip dari berbagai media.

TI dan Industri Kreatif

Modal utama ekonomi kreatif adalah sumber daya manusia, ide, kreativitas, dan inovasi. Pemerintah membagi ekonomi kreatif dalam 14 sektor industri: arsitektur, desain, kerajinan, layanan komputer dan peranti lunak, fesyen, musik, pasar seni dan barang antik, penerbitan dan percetakan, periklanan, permainan interaktif, riset dan pengembangan, seni pertunjukan, televisi dan radio, serta video, film, dan fotografi. Lalu, apa hubungan antara keempat belas sektor industri kreatif dengan TI?

“Pasar (ekonomi kreatif) hanya akan terbentuk jika kita punya IT literacy tinggi dan sebesar-besarnya masyakarat mengakses IT,” demikian kata oleh Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, saat menyampaikan materi “Marketing Indonesia's Digital Creative Industry” dalam ajang Indonesia Information and Communication Technology Award (INAICTA) 2008, Jumat (8/8).

Digelar pada 7-8 Agustus 2008, di Jakarta Convention Center, sekaligus untuk merayakan 100 tahun Kebangkitan Nasional, INAICTA 2008 memberi pencerahan bagi para pelaku industri kreatif, khususnya di bidang teknologi. Dalam perhelatan teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology, ICT) skala nasional itu, puluhan hasil kreasi dan inovasi anak bangsa dipajang dan masuk dalam daftar nominasi peraih penghargaan.

Menurut Mendag, ada tiga aspek penting ICT dalam menciptakan industri kreatif, yakni ICT sebagai industri, ICT sebagai alat untuk menciptakan industri, dan ICT sebagai alat untuk mengerti tentang pasar dan konsumen.

Kita lihat poin pertama, ICT sebagai industri. Bisa dilihat, dari keempat belas sektor industri kreatif yang dicanangkan oleh pemerintah, hampir semua terkait langsung dengan ICT. Pemahaman tentang ICT diperlukan untuk mengembangkan industri kreatif.

Beralih ke poin kedua, ICT sebagai alat untuk menciptakan industri, kita bisa melihat pentingnya ICT sebagai media belajar dan promosi produk oleh para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). ICT sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Mendag mengambil contoh yang terjadi dalam industri musik. “Masalah (dalam industri musik) yang terjadi saat ini adalah piracy. Nantinya, CD akan beralih ke toko musik online. Orang bisa membeli musik dengan men-download dari internet atau membeli ringtone untuk ponsel,” katanya. Bisa dilihat, pemasaran musik secara digital lewat website dan internet akan menjadi masa depan industri musik.

Terakhir, Mendag menjelaskan tentang peran ICT sebagai alat untuk mengerti pasar dan konsumen. “Iklan tradisional (di TV atau majalah) tak lagi menjadi sumber utama penilaian masyarakat terhadap sebuah produk,” katanya. Masih banyak media yang bisa mempengaruhi penilaian masyarakat tentang suatu produk. Contohnya blog.

Pengguna blog saat ini banyak jumlahnya. Mereka bisa bebas membagi pendapatnya tentang suatu hal atau produk di blognya. Dan siapa saja bisa berkunjung dan membaca blog tersebut. Selain blog, penilaian terhadap produk bisa terbentuk dari komunitas atau kelompok yang berkembang secara demografis.

7 comments:

  1. ya benar, semua itu harus dibenahi dari akar, dan tak lupa TI ini sang membantu dalam kebangkitan industri kreatif !

    ReplyDelete
  2. thx infonya mas,ide yg kreatif ...

    ReplyDelete
  3. bagus banget moga menang !!!!

    ReplyDelete

Silakan Berikanlah Komentar Yang Positif dan Membangun. Happy Blogging gaes !! :)