31 March 2010

BERHANDPHONE DENGAN ETIKA

HANDPHONE (HP) saat ini telah menjadi primadona bagi hampir semua lapisan masyarakat kita. Jika dulu kebutuhan terhadap barang elektronik ini dianggap sebagai kebutuhan terhadap barang mewah (Lux), maka saat ini statusnya telah berubah menjadi kebutuhan sekunder dan bahkan hampir menjadi kebutuhan pokok (primer). Hal ini tidak dapat dielak, perubahan zaman yang sangat cepat membuat terjadinya transformasi dalam semua lini di segala aspek kehidupan manusia. Komunikasi sebagai tujuan utama diciptakannya HP adalah suatu aktifitas yang akan selalu dilakukan manusia sepanjang hidupnya. Dalam perjalanannya sudah barang tentu akan penuh dengan dinamika yang menyertainya.

Di zaman yang serba canggih ini, HP memang sangat praktis dalam membantu berbagai rutinitas keseharian kita. Efek positif keberadaan HP di tengah-tengah kita memang suatu hal yang tak terbantahkan. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, manusia yang semula berkomunikasi lewat tulisan yang dikirimkan lewat pos. Di era selanjutnya, mereka memilih berkomunikasi lewat HP karena cara ini dinilai lebih praktis daripada alat-alat komunikasi yang ada sebelumnya. Lebih efisien baik dari segi pemakaian atau pun dari segi cara kita membawa alat komunikasi tersebut. Dengan adanya HP komunikasi semakin lancar. Kita bisa berkomunikasi tanpa harus memperhitungkan jarak dan tempat kita tinggal. Dengan HP kita juga bisa berbagi kabar dengan teman atau kerabat kita yang berada di dalam maupun di luar negri tanpa harus menunggu waktu terlalu lama. Dengan adanya HP kita juga bisa meng-akses berbagai informasi teraktual melalui fasilitas internet.

Namun, sesuai dengan hukum sunnatullah, efek negatif keberadaan HP pun menjadi sesuatu yang tidak terelakkan pula. Berbagai problema terus bermunculan seiring perjalanan waktu dengan kemajuan yang sangat pesat. Persoalan yang bermula dari ketidak-bijaksanaan ini tidak jarang berakibat sangat fatal. Dari analisa penulis, persoalan akibat ketidak-bijaksaan mempergunakan HP ini terjadi mencakup di semua segi, mulai dari sisi moral yang menimpa sebagian masyarakat dari kalangan remaja, penipuan melalui SMS berhadiah, intimidasi dan teror melalui jalur pesan singkat(SMS), terbuangnya waktu sia-sia akibat terlalu sibuk mencet-mencet tombol HP setiap saat meskipun seorang dosen/Guru atau Teungku sedang mengajar, kecelakaan di jalan raya akibat terlalu sibuk sms-san dan telpo-telponan sambil berkendaraan, sampai banyak konflik dalam rumah tangga antara suami dan istri yang bermula karena SMS iseng. Begitu juga persoalan-persoalan lainnya seperti persaingan materi yang berlangsung sangat dahsyat sehingga telah membentuk sebuah kultur budaya materialistik yang tertanam sangat dalam di lubuk hati dan jiwa masyarakat kita.

Dari aspek moral kita bisa menyaksikan sendiri terkikisnya nilai-nilai transendental pada kebanyakan remaja kita saat ini. HP yang sejatinya diharapakan menjadi alat untuk memudahkan dalam berkomunikasi telah dialih fungsikan menjadi sarana perusakan moral dan intelektual para pelakunya. Gambar-gambar dan film-film porno seakan menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan lagi dari kebanyakan remaja kita saat ini. Mereka begitu leluasa menikmati film-film laknat tanpa ada pihak yang sanggup mencegahnya. Hal ini diperparah dengan keberadaan pihak-pihak tak bertanggungjawab yang memberikan jasa penyediaan film-film dan gambar laknat itu secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Sebagian masyarakat dan umumnya remaja kita saat ini juga semakin lengket dengan predikat ’hana eh malam’ akibat aktifitas baru menelpon ber-jam-jam hingga larut malam tanpa menghiraukan apapun resiko yang menimpanya. Sehingga keasyikan nelpon malam tidak jarang berakibat dikesampingkannya pekerjaan penting lainnya dan berujung dengan luputnya waktu salat shubuh akibat terpaksa bangun kesiangan karena ’hana eh malam’.

Ketidak-bijaksanaan ber-handphone ini tidak jurang pula menyebabkan terkikisnya ’perasaan’ si pengguna HP. Kita bisa melihat fenomena yang terjadi selama ini yang sepertinya telah menjadi sebuah kebiasaan baru pengguna HP. Misalnya seperti ketika salat berjamaah dimasjid/meunasah atau dalam sebuah rapat dan kegiatan-kegiatan penting lainnya. Seolah begitu sulit mematikan atau men-sailent HP meskipun hanya sejenak untuk kekhusukan terlaksananya hal-hal yang sangat sakral. Panggilan HP tidak jarang pula lebih dimuliakan daripada panggilan Tuhan, Na’uzubillahi min zalik. Panggilan HP seolah menjadi sebuah prestise bagi pemiliknya maskipun yang dibicarakan nanti adalah hal-hal yang kurang penting. Sebesar apapun larangan menghidupkan HP dalam mesjid atau sepenting apapun sebuah rapat menjadi tak berfungsi ketika perasaan si pengguna HP ini menipis.

Di samping itu, banyak pula problema yang muncul dalam pengunaannya. Misalnya terjangkitinya penyakit buruk sangka atau suuzan dalam ber-SMS akibat telat atau lupanya pihak yang di-SMS untuk membalas atau sedang sibuk sehingga sebuah panggilan telepon tidak sempat diangkat. Persoalan sebaliknya adalah keengganan sebagian diantara kita untuk mengangkat sebuah panggilan telepon atau menjawab sebuah pesan singkat dengan perasaan seolah si-penelpon/SMS tidak lebih baik atau lebih mulia dari dirinya, hal ini sering diperankan oleh elit-elit di birokrasi kita dengan berbagai macam alasannya. Dan hal yang berbeda tentu akan diperlihatkan sesorang seandainya yang menghubungi adalah pejabat, orang kaya atau orang yang dibutuhkannya(bukan orang yang membutuhkannya). Padahal ini sudah memasuki ranah yang disebut Rasulullah sebagai penyakit hati, kesombongan, keangkuhan dan lain sebagainya.

Maka diperlukan kecerdasan dan kebijaksanaan yang ditata menjadi sebuah etika dalam ber-Handphone. Bagaiamana agar HP bisa kembali ke fungsinya semula sebagai alat yang memudahkan manusia dalam menjalani hidupnya. Dalam mengurangi dampak negatif penggunaan HP, misalnya aspek moral, diperlukan kesadaran semua pihak untuk terlibat aktif menghadang merebaknya dampak kerusakan moral akibat terlalu bebasnya peredaran gambar-gambar dan film-film laknat itu. Kita berharap agar para orang tua semakin aktif mengontrol anak-anaknya, begitu juga pihak-pihak yang dekat dengan sipelaku tadi. Harus ada kesadaran komunal dan kolektif untuk menghadang semua ancaman perusakan moral ini.
Dan kesadaran setiap individual dalam ber-Handphone menjadi suatu keniscyaan. Karena seserius apapun upaya penanggulangan dan penyadaran tak akan ada manfaatnya jika para individual pelaku ini belum memiliki kesadaran dan kebijaksanaan yang lahir dari jiwa terdalam. Wallahu a’lam bishshawab.



No comments:

Post a Comment

Silakan Berikanlah Komentar Yang Positif dan Membangun. Happy Blogging gaes !! :)