18 February 2010

SEKSUALITAS IKLAN TELEVISI

Kehadiran televisi di dunia telah membawa dampak yang besar bagi umat manusia. Televisi membawa berbagai kandungan informasi, pesan-pesan yang dalam kecepatan tinggi menyebar ke seluruh pelosok dunia. Menjadi berbagai alat bagi berbagai kelompok untuk menyampaikan berbagai pesan untuk bermacam kalangan masyarakat. Dalam kehidupan kita sekarang, televisi telah membawa dampak yang sangat besar buat manusia. Televisi membawa berbagai kandungan informasi, dimana pesan-pesannya dalam kecepatan tinggi menyebar ke seluruh tempat yang dengan mudah diterima tanpa meributkan fasilitas yang terlalu beragam. Hal ini membuat orang bisa secara langsung mendapatkan informasi yang dibutuhkan tanpa membutuhkan waktu yang lama. Di sinilah peranan televisi demikian penting dan dibutuhkan oleh manusia. Dan menjadikan daya tarik menonton pada masyarakat demikian meningkat semakin tinggi.
Dalam era informasi sekarang ini, televisi memang boleh dikatakan telah merebut minat masyarakat di berbagai penjuru dunia. Televisi menyajikan berbagai macam program tayangan baik yang berdasar realitas, rekaan dan ciptaan yang sama sekali baru. Televisi mengetengahkan berbagai siaran dalam berbagai bentuk ; berita, pendidikan, hiburan dan iklan. Televisi mempunyai kelebihan untuk menyajikan siaran secara langsung (live broadcasting) yang dapat mencapai Bahkan televisi seperti disampaikan oleh Patricia Edgar dapat memungkinkan terjadinya diskusi secara langsung, segera setelah menggunakan media tersebut, karena memang biasanya televisi dinikmati secara berkelompok.
Tetapi ada hal lain yang muncul akibat globalisasi informasi dan komunikasi, khususnya yang menggunakan media televisi ini. Efek sosial yang bisa memuat unsur-unsur perubahan nilai sosial dan budaya dalam masyarakat bisa juga terjadi akibat masyarakat pemirsa media televisi ini meng’iya’kan setiap nilai baru yang ditawarkan media televisi. Manusia cenderung menjadi konsumen budaya massa yang aktif. Hal ini mengakibatkan pola-pola kehidupan rutinitas manusia sebelum muncul televisi menjadi berubah, bahkan secara total. Televisi menjadi anutan baru (new religion) buat masyarakat.
Tentu saja kelebihan dan kelemahan televisi mempunyai pengaruh kepada pemirsanya. Semakin unsur kelebihan digunakan maka akan semakin besar pula kecenderungan untuk menikmatinya. Demikian sebaliknya bila unsur kelemahan yang lebih mendominasi maka hasilnya akan ditinggalkan khalayaknya. Melihat perkembangan televisi yang demikian pesat, Wilbur Schramm mengatakan televisi telah digunakan secara efektif untuk mengajarkan segala macam subjek, baik teoritis maupun praktik. Maka tidak berlebihan bila Gerbner berkata bahwa media massa (khususnya media televisi) telah menjadi agama resmi masyarakat Industri.
Untuk Indonesia sendiri perkembangan dunia televisi menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Hanya dalam beberapa tahun terakhir muncul beberapa stasiun swasta baru selain yang sudah ada seperti GlobalTV, TV7, TransTV, MetroTV, Arrakhman Channel. Stasiun-stasiun swasta ini saling bersaing membuat sajian informasi, hiburan dan pendidikan. Tentu saja perkembangan seperti itu tidak dapat dilepaskan dari dukungan dana yang besar. Dan sumber terbesar untuk mendapatkan dana ini, tidak bisa dilepaskan dari dunia iklan. Sebagai misal untuk TVRI, di tahun 1981 saja pendapatan iklan dalam setahun bisa meraih 20 milyar. Apalagi di tahun sekarang, dengan munculnya televisi swasta. Dipastikan jumlahnya jauh membengkak melebihi itu. Akibatnya, televisi ibarat pasar bebas hasil produk yang ditawarkan langsung kepada masyarakat. Dan ini dipastikan mempunyai dampak yang besar buat masyarakat. Hotman Siahaan mengatakan bahwa iklan mempunyai dampak yang besar terhadap pola pemikiran dan pola konsumsi masyarakat, bahkan bisa menjadi racun bagi masyarakatnya.

Iklan Televisi
Sementara media televisi mempunyai daya tarik yang demikian hebat buat pemirsanya, kita melihat bahwa 20 % acara di televisi berupa iklan. Yang berarti, mau tidak mau pemirsa televisi swasta dimanapun akan menerima terpaan iklan yang juga besar. Artinya, iklan juga akan membawa pengaruh baik langsung maupun tidak kepada pemirsanya. Menurut Philips televisi telah memberikan dampak yang cukup besar bagi kita yang hidup di alam modern ini, media massa telah banyak mengubah perilaku kita lebih dari apa yang kita sadari .
Secara sederhana iklan didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media (Kasali). Sementara kita paham dunia iklan selalu mengekspos kemudahan dan kemewahan yang memang mempunyai tujuan untuk menginformasikan suatu hasil produk kepada masyarakat. Hanya saja, penampilan adegan iklan yang ditayangkan lewat media televisi seolah-olah tidak mempunyai batasan yang jelas dalam menampilkan sosok tokoh yang sebenarnya atau dapat ditiru dengan segenap kebaikan-kebaikannya.
Salah satu permasalahan yang berhubungan dengan dunia iklan adalah ditampilkannya wanita sebagai aktor utama pelaku iklan di media massa. Menurut perkiraan, 90 persen periklanan menggunakan wanita sebagai model iklannya (Tjitra). Bahkan dalam memandang dan memperlakukan wanita, televisi bersifat paradoks. Di satu pihak, media mempromosikan kemajuan-kemajuan dan prestasi-prestasi wanita, misalnya memunculkan wanita sebagai tokoh wanita karir dalam iklan dan program-program lainnya, namun pada saat yang sama iklan juga melemparkan mereka kembali pada keterbelakangan, dengan tetap menonjolkan keutamaan wanita sebagai makhluk yang dapat menarik perhatian lawan jenisnya (Cassata dan Asante).
Sebagai contoh, ketika televisi menayangkan iklan Kuku Bima TL yang menggunakan daya pikat seksual bahwa betah tidaknya istri di rumah disebabkan pemuasan unsur keperkasaan dari sang suami. Sebuah penjatuhan derajat istri yang sangat luar biasa. Seolah-olah ranjang merupakan segala-galanya dalam membina sebuah rumah tangga yang ideal. Seperti juga iklan parfum AXE dimana seorang wanita dengan gampangnya terpikat dan terangsang naluri seksualnya saat bertemu dengan pria yang menggunakan parfum tersebut, seperti digambarkan saat di lift. Atau contoh lain iklan bedak harum sari dimana seorang gadis menjadi rebutan dari para laki-laki, padahal sebelumnya dicuekin karena badannya bau. Adegan lain yang merangsang laki-laki juga muncul dalam iklan minuman Krating Daeng yang menampilkan wanita berpakaian bikini sedang meloncat atau munculnya Tamara Bleszinki dan Nadya Hutagalung dalam adegan mandi bersama iklan sabun Lux. Akhirnya, kecenderungan adegan dalam iklan di televisi pun terkesan mengada-ada dan tidak etis. Tampilan yang mestinya biasa-biasa dan wajar kemudian menjadi berlebihan. Seperti iklan Jamu Pasutri yang untuk keputihan dengan adegan -maaf- pantat seorang wanita di gambarkan dikejar dan disentuh sementara lagak dan tampilannya sendiri seksi.
Memang ada iklan yang menonjolkan sisi kewanitaan yang cukup layak untuk ditayangkan, tapi sebagian besar iklan yang ada, yang menampilkan peran artis wanita sebagai tokoh utama, lebih cenderung merendahkan martabat wanita dengan peran, ucapan, gerak, dan penampilan yang sensual dan seksi mereka di depan kamera televisi. Menurut Akbar S. Ahmad, bagi wanita, zaman media adalah perangkap keindahan yang menyakitkan dan sekaligus perangkap tiranik yang menggiurkan. Penampilan wajahnya harus anggun namun atraktif, tubuhnya sintal, bibirnya sensual, langsing dan memiliki daya pikat seksual, pakaiannya mutakhir. Wanita tidak boleh buruk napas, apalagi bau badannya. Dan cara yang ditempuh oleh media televisi adalah mempraktikkannya dalam presentase akting sang artis yang menjadi alat personifikasi untuk industri, dengan tubuh sebagai kekuasaan dan pusat kesadaran
Lebih lanjut dikatakan bahwa iklan berperan untuk memanipulasi kekaburan simbol dalam aktifitas yang tak henti-hentinya mencipta dan mencipta kembali makna yang dapat dikenakan pada barang komoditas. Media mengisyaratkan bahwa seksisme menjadi simbol aktifitas terpenting manusia bahkan tabloid atau majalah khusus yang diperuntukkan untuk remaja, memuat cerita di sekitar perilaku seksual para bintang yang menjadi tokoh utama tiap edisinya. Maka bisa dibayangkan dampak yang terjadi akibat tampilan media massa, khususnya televisi terhadap pemirsa remaja.
Mengutip Dedy Djamaludin Malik dan Yosal Iriantara, diperkirakan rata-rata remaja menonton 250.000 iklan televisi setiap hari sepulang sekolah. Bahkan suatu penelitian yang dilakukan Ki Supriyoko disampaikan bahwa 22,98 % penyebab kenakalan remaja disebabkan karena adanya “miss-education” dari media massa, khususnya televisi. Menjadi wajar bila sebuah LSM di Yogyakarta berani mengungkap sisi ketidak perawanan mahasiswi di sana, yang bisa jadi terkena dampak tawaran nilai freeseks yang ada di media televisi seperti sekarang ini sampai lebih dari 95 %..
Iklan ternyata tidak sekadar menjual barang, ia adalah unsur penting dalam budaya karena ia merefleksikan dan berusaha mengubah gaya hidup kita, dan iklan juga berarti seksualitas, keindahan, kemudaan, kemodernan, kebahagiaan, kesuksesan, status dan kemewahan (Wilson). Iklan terlalu menyerdahanakan hidup, sehingga kita tidak melihat faktor-faktor lain yang bisa membuat hidup kita bahagia, faktor-faktor yang tidak memungkinkan hidup bahagia bahkan dengan membeli produk itu atau melihat ketidak bahagiaan yang justru disebabkan oleh pembelian produk itu (Jamieson dan Campbell). Seks, seperti juga tema-tema sensitif lainnya, selalu mengundang perhatian.
Seks (termasuk pelecehan seksualitas wanita di dalamnya) selalu menjadi tema yang terus meningkat seperti disebutkan Leslie Lazar Kanuk seorang pakar perilaku konsumen, dikarenakan seks merupakan hal yang paling mendasar dalam motif manusia. Di Amerika sendiri, 35 % iklan yang ditayangkan di televisi bertemakan seks (Soley dan Reid). Padahal ternyata rata-rata orang Amerika diterpa 1500 pesan melalui televisi setiap. Bisa dibayangkan betapa besar pengaruh negatifnya bagi kehidupan masyarakatnya.

Solusi Nyata
Permasalahan seksualitas di media massa sebenarnya bukanlah tergantung satu pihak saja tetapi butuh sebuah upaya keras baik dari pihak media dan juga masyarakat sebagai konsumen. Untuk itu perlu dipikirkan beberapa cara yang mampu menawarkan solusi kepada pihak pengelola media massa seperti :
1. Pengkajian kembali program acara yang kurang mendidik masyarakat, khususnya penayangan adegan sensual dalam iklan di media televisi yang cenderung melecehkan kaum wanita, serta harus ada pembatasan yang seimbang sesuai fungsi dasar media massa untuk masyarakat.
2. Perlu adanya penelitian lebih lanjut berkenaan dengan penayangan adegan sensual yang secara tidak langsung memberikan informasi seksual kepada para pemirsa. Berkenaan dengan banyaknya kasus yang muncul di masyarakat yang menjadikan remeh dampak media massa televisi di masyarakat khususnya nilai-nilai sensualitas dan sadistis.
3. Perlunya pengurangan dan editing yang selektif terhadap iklan yang akan ditayangkan, sehingga efek-efek negatif terhadap masyarakat lebih dapat dihindarkan. Yang terpenting adalah isi pesan bukan pembawa pesan.
4. Penting untuk dilaksanakan penayangan iklan yang sesuai dengan waktu tayang. Misalnya, dibikin pembatasan iklan apa yang tepat untuk pemirsa usia anak-anak dan kapan waktunya. Sehingga iklan yang ditayangkan akan tepat sasaran pemirsanya.
5. Perlu upaya pihak pengelola stasiun telvisi untuk memberikan imbangan informasi yang dibutuhkan masyarakat, sehingga tidak menjadikan masyarakat sebagai sasaran tembak yang efektif dalam mengikuti arus budaya massa yang ditawarkan.
Sementara untuk masyarakat sebagai konsumen aktif dalam bentuk :
1. Perlunya memanfaatan waktu luang yang lebih efektif daripada sekedar mencari hiburan lewat televisi yang banyak berisikan tayangan tidak mendidik.
2. Perlunya teman diskusi yang bisa diajak tukar pikiran saat menonton televisi, dan keberanian mengungkapkan isi pikiran dan isi hati terhadap adegan tayangan yang dirasa tidak tepat.
3. Perlunya disiplin diri untuk mencari sumber informasi dan hiburan yang tepat dengan kebutuhan.
4. Perlu dirintis untuk mengembangkan budaya kritis dan waspada sebagai sebuah sikap kehati-hatian terhadap dampak media massa televisi. Kemudian perlu dipikirkan sebuah wadah bersama seperti lembaga konsumen yang aktif mengkaji dampak pengaruh media massa kepada masyarakat seperti media watch

No comments:

Post a Comment

Silakan Berikanlah Komentar Yang Positif dan Membangun. Happy Blogging gaes !! :)