14 April 2018

April 14, 2018 0

Tentang Rindu



Singkat saja, 02.22 WIB ditengah hening malam mata masih terjaga. Di depan laptop saya terlalu fokus dengan angka-angka yang sudah lama tertunda untuk diselesaikan, lagu-lagu dari kanal youtube yang saya putar terus berlalu silih berganti, hingga suatu titik saya tiba di suatu lagunya "Virzha – Tentang Rindu". Lagu ini tidak asing ditelinga saya, tetapi sejak lagu ini pertama kali dirilis saya belum pernah melihat video klipnya, untuk tau lebih dalam rindu terhadap siapa yang disampaikan oleh Virzha di setiap liriknya. Setelah melihat klipnya ternyata pesan dalam lagu ini rindu yang disampaikan kepada seorang Ayah, seorang Ayah yang dalam diamnya selalu mengkhawatirkan anaknya.

Pertama melihat video klipnya, emosi ini langsung terkuras, memori ini mengungkit, hati ini menuntut, akhirnya air mata tanpa sadarnya menumpahkan dirinya tanpa diperintah. Lirik, musik, dan video klipnya menurut saya sampe bangettt…

Ada satu bagian yang membuat momen ini semakin menjadi, yaitu sewaktu saya membaca salah satu komen, yang sebenarnya hal ini juga pernah dilakukan oleh teman dekat saya.

Gambar : potongan video Virzha-Tentang Rindu (www.youtube.com)
Sama seperti yang dibagikan tersebut, dengan alasan yang sama sewaktu itu seorang teman memutuskan keluar dari suatu pekerjaan yang top di suatu perusahaan ternama untuk mendampingi dan lebih dekat dengan orang tua, tetapi Allah itu maha adil, maha kaya, dan maha mengetahui apa yang terbaik untuk setiap hambanya, sekarang rezeki yang didapat oleh teman tersebut lebih dari yang dia dapat di perusahaan yang dia tinggalkan tersebut melalui usaha yang dia rintis di kampung halamannya.

Semoga tulisan singkat ini tidak hanya menggugah bagi yang membaca, tetapi semoga saya pun selalu dapat menjaga emosi ini untuk selalu rindu dan tidak ingin terlalu lama jauh dari orang yang kita sayangi, khususnya kedua orang tua kita. 


   

06 April 2018

April 06, 2018 0

Diamnya Mereka

Image by https://www.plukme.com/

Diamnya itu batu
Menggumpal menjadi benci

Diammnya itu beku
Dingin tiada arti

Diamnya itu cair
Menyatu dalam canda

Diamnya itu kotoran
Tiada arti untuk dicari tahu

Diamnya itu sinyal
Penuh harap akan peka

Diamnya itu rindu
Mengikis jiwa yang sepi

Diamnya itu beban
Berfikir akan peran yang hilang

Diamnya itu candu
Berharap itu selalu terulang

Diamnya itu ibadah
Berat tapi indah

Dan diamnya itu baru kutahu hari ini..



21 January 2018

January 21, 2018 0

Rembulan dan Angin Malam (Pengantar Rindu)

Gemerlap malam, rembulan yang tertutup awan, sehingga tidak bisa ku berpesan bahwa aku sedang rindu, padahal aku baru berpisah menginjakan kakiku disini, mengingat kau yang jauh disana, ku menanti senyummu setiap pukul lima, menanti kau pulang. Awan kau jahat menutup pesanku terhadap rembulan malam ini, untuk ku sampaikan kepada ummi ku.

Angin memberi pesan, "kau titipkan saja pesanmu padaku, agar ku sampaikan rindumu ini, tapi tidak utuh, karena aku adalah angin yang pergi kesana dengan halang rintang yang ramai. Jangan samakan aku seperti rembulan, yang penuhnya sama di atas langit bagian waktu yang sama, aku hanya ingin membantumu menuntaskan rindumu yang biasa kau titipkan lewat rembulan".

Tidak apa, tidak ada yang beda sahutku, terima kasih angin kau sungguh ingin membantuku, lalu kuhembuskan lafadz rinduku pada angin malam, agar angin sampaikan betapa besarnya gemuruh rinduku ini padanya.

Terselesaikan isak rindu ini, biarlah kopi hitam menemani sisa kesendirianku malam ini… ☕


*Awalnya ngerjain tugas yang deadline, ehhh.. malah rindu datang tiba-tiba... 

07 January 2018

January 07, 2018 0

Sukma dan malamnya

Malam kembali menghampiri, tanpa isyarat apapun, sudah 2 hari sukma tidak mengenal matahari, bulan, dan teman-temannya, hanya memantau, berinteraksi, dan bersakit melalui handphone rentan ini, saling tatap dengan 2 buah laptop yang mengejar hari-harinya, tetapi tetap saja begitu lama tuk menyelesaikan, seolah tidak mau lekang dari kerjaan, didalam pikirnya dia sangat butuh aktivitas atau tugas, untuk lari dari pelik dunia, atau kehidupan manusia dengan sejuta kepalsuannya.

Sukma merupakan wanita yang tidak rewel akan kehidupan, wanita mandiri dengan pembawaan sedikit tomboy, aku mencatat semua yang dia hadirkan didalam kehidupannya di ruang kamarnya, hampir tidak ada hal minor dari kacamataku menilai sosoknya dalam bekerja.

Pukul 00.12 WIB selalu menjadi waktu untuknya meracik robusta rebus seperti biasanya, ini merupakan candu untuknya selama seminggu terakhir, dia ingin lari dari tidur, menikmati malam hingga subuhnya tanpa tidur, dia selalu mengerjakan aktivitasnya yang tersisa disiang hari pada 1/3 malam, ada keheningan dan keharmonisan dengan dimensi kamar yang dia rasakan.

Malam ini aku melihat dia terlelap sesaat, terbangun dengan tangis, lalu dia meninggalkan kegelapan dan kedinginan kamar ini dan kembali dalam keadaan berwudhu, dan membentangkan sejadahnya, dia sholat dan menangis menghadap rabb nya, dia meluapkan keluh kesahnya, aku melihat hal itu sangat lama, beliau habiskan sujudnya dengan nikmat, dia mengadahkan tangannya dengan setingginya, perih rasanya saat dia meminta untuk panjangkan waktu malam ini, dia sangat benci ketika pagi kembali tiba, benci ketika harus kembali berinteraksi dengan manusia, seakan setiap interaksi yang dia lakukan jadi ladang dosa untuknya, saat itu dia ingin menikmati malam itu lebih lama lagi, lebih panjang lagi. Hal yang tidak biasa dia lakukan di setiap malam-malamnya, aku merasa dia baru saja terbangun dari sebuah mimpi indah yang penuh makna, jujur aku sendiri tidak tahu dia bermimpi apa.
www.google.com

Subuh tiba, sukma bergegas melangkahkan kakinya ke masjid di arah timur rumahnya, kembali pulang dan bergegas kembali pergi dengan terburu buru dan nafas terengah engah.. aku tidak tahu dia kemana, tidak ada telpon, pesan, atau sesuatu yang keluar dari mulutnya. Saat itu aku hanya mendoakannya, semoga dia selalu dalam lindungan dan pengawasan Allah SWT..



*aku merupakan bunga kaktus di sudut kamarnya, salam kenal.. J