21 January 2018

January 21, 2018 0

Rembulan dan Angin Malam (Pengantar Rindu)

Gemerlap malam, rembulan yang tertutup awan, sehingga tidak bisa ku berpesan bahwa aku sedang rindu, padahal aku baru berpisah menginjakan kakiku disini, mengingat kau yang jauh disana, ku menanti senyummu setiap pukul lima, menanti kau pulang. Awan kau jahat menutup pesanku terhadap rembulan malam ini, untuk ku sampaikan kepada ummi ku.

Angin memberi pesan, "kau titipkan saja pesanmu padaku, agar ku sampaikan rindumu ini, tapi tidak utuh, karena aku adalah angin yang pergi kesana dengan halang rintang yang ramai. Jangan samakan aku seperti rembulan, yang penuhnya sama di atas langit bagian waktu yang sama, aku hanya ingin membantumu menuntaskan rindumu yang biasa kau titipkan lewat rembulan".

Tidak apa, tidak ada yang beda sahutku, terima kasih angin kau sungguh ingin membantuku, lalu kuhembuskan lafadz rinduku pada angin malam, agar angin sampaikan betapa besarnya gemuruh rinduku ini padanya.

Terselesaikan isak rindu ini, biarlah kopi hitam menemani sisa kesendirianku malam ini… ☕


*Awalnya ngerjain tugas yang deadline, ehhh.. malah rindu datang tiba-tiba... 

07 January 2018

January 07, 2018 0

Sukma dan malamnya

Malam kembali menghampiri, tanpa isyarat apapun, sudah 2 hari sukma tidak mengenal matahari, bulan, dan teman-temannya, hanya memantau, berinteraksi, dan bersakit melalui handphone rentan ini, saling tatap dengan 2 buah laptop yang mengejar hari-harinya, tetapi tetap saja begitu lama tuk menyelesaikan, seolah tidak mau lekang dari kerjaan, didalam pikirnya dia sangat butuh aktivitas atau tugas, untuk lari dari pelik dunia, atau kehidupan manusia dengan sejuta kepalsuannya.

Sukma merupakan wanita yang tidak rewel akan kehidupan, wanita mandiri dengan pembawaan sedikit tomboy, aku mencatat semua yang dia hadirkan didalam kehidupannya di ruang kamarnya, hampir tidak ada hal minor dari kacamataku menilai sosoknya dalam bekerja.

Pukul 00.12 WIB selalu menjadi waktu untuknya meracik robusta rebus seperti biasanya, ini merupakan candu untuknya selama seminggu terakhir, dia ingin lari dari tidur, menikmati malam hingga subuhnya tanpa tidur, dia selalu mengerjakan aktivitasnya yang tersisa disiang hari pada 1/3 malam, ada keheningan dan keharmonisan dengan dimensi kamar yang dia rasakan.

Malam ini aku melihat dia terlelap sesaat, terbangun dengan tangis, lalu dia meninggalkan kegelapan dan kedinginan kamar ini dan kembali dalam keadaan berwudhu, dan membentangkan sejadahnya, dia sholat dan menangis menghadap rabb nya, dia meluapkan keluh kesahnya, aku melihat hal itu sangat lama, beliau habiskan sujudnya dengan nikmat, dia mengadahkan tangannya dengan setingginya, perih rasanya saat dia meminta untuk panjangkan waktu malam ini, dia sangat benci ketika pagi kembali tiba, benci ketika harus kembali berinteraksi dengan manusia, seakan setiap interaksi yang dia lakukan jadi ladang dosa untuknya, saat itu dia ingin menikmati malam itu lebih lama lagi, lebih panjang lagi. Hal yang tidak biasa dia lakukan di setiap malam-malamnya, aku merasa dia baru saja terbangun dari sebuah mimpi indah yang penuh makna, jujur aku sendiri tidak tahu dia bermimpi apa.
www.google.com

Subuh tiba, sukma bergegas melangkahkan kakinya ke masjid di arah timur rumahnya, kembali pulang dan bergegas kembali pergi dengan terburu buru dan nafas terengah engah.. aku tidak tahu dia kemana, tidak ada telpon, pesan, atau sesuatu yang keluar dari mulutnya. Saat itu aku hanya mendoakannya, semoga dia selalu dalam lindungan dan pengawasan Allah SWT..



*aku merupakan bunga kaktus di sudut kamarnya, salam kenal.. J
January 07, 2018 0

Doa dan Pulang

Biarkan malam berterus terang..
Biarkan dingin malam ini menyelimuti raga..
Dan waktu ini tak lama, menjadikan setiap detik berharga..
Mendamba hujan, tuk mengangkat doa…
Bertahan ditengah malam yang dingin, mengadahkan tangan..
Berharap kau jamah, hingga ku lupa rasanya lelah…
Dengan sedikit keberanian, kupaksakan pilihan, tapi bukan sebenarnya pilihan..
Menelan pahitnya robusta telah jadi jaminan resikonya bagiku..
Semoga masih ada usia yang tersisa bagiku hingga kubeli kebahagian untukmu..
Aku bukan makhluk saling melupa, membisu, acuh tak acuh..
Seolah tak berdosa, dan semua akan sirna..
Silih berganti yang ku andalkan, dikala terhempas..
Dan ketika aku pulang dengan lara..
Kembali ku mendamba hujan di akhri tahun, tuk mengangkat doa..
Mudah melihat mana yang sewarna denganku atau tidak, saat aku kelam..
Kurindukan harum hujan kembali, mengadahkan tangan, dan mendoakan..
Merindu sepi, menepikan dunia, berimajinasi gila..
Hujan pasti berakhir, akan datang waktu bagi sang surya tuk bercerita dan berpesan..
Dengarkan dan jangan tolak..

www.google.com

Depok-Damri-Soekarno Hatta, (24-25 Desember 2017)

*Hari ini semua yang tersirat di dalam doa tersebut dijamah oleh yang maha mendengar, Allah SWT, kehidupan yang aku harapkan sudah berjalan normal, saat nanti aku kembali pergi aku berharap semua tetap pada zonanya, hingga suatu saat aku kembali pulang.


03 January 2018

January 03, 2018 0

Catatan Tanpa Judul

www.google.co.id
Ini kisah anak kecil dari sebuah desa di ujung negeri, seorang anak yang resah akan daya upaya untuk bangkit dari ketiadapunyaan, dengan latar keluarga yang banyak tidak memiliki latar pendidikan yang memupuni, menjadi motivasi untuk merangkak hingga akhirnya dapat berdiri sendiri, dan sekarang anak itu berada dalam rel untuk dapat berjalan menjadi dirinya sendiri.

Lingkup sosialnya tiada yang tahu bagaimana masa kecilnya, kerja kerasnya bersama orang tuanya membangun gubuk mereka saat ini, waktu itu dia memang masih kecil tapi masa-masa susah itu tidak akan pernah hilang dari memorinya, terekam sangat kuat, seakan otaknya mampu menyaring mana yang harus diingat dan tidak. Semua yang dimiliki orang tuanya ditumpahkan kepadanya, semua yang dia butuhkan diberikan, anak ini pandai sekali menyelimuti ketiadapunyaan nya dengan kecukupan didepan lingkup sosialnya.

Sekarang anak ini lagi mengisi bekal, bekal yang menjadi solusi untuk keluarganya, tiada terbesit kehidupan seperti sebayanya yang lain, tapi dia mampu menyelimutinya agar semua yang jadi keterbatasan tersebut tidak terlihat.

Banyak sekali yang tersakiti dari ucap sembilu lidahnya, tapi banyak juga yang merindukannya, seperti itu berita angin yang kudapat. Dibutuhkan malam yang panjang untuk mencurahkan kisah anak ini sebenarnya, butuh waktu lama untuk mengenang masa-masa pahit itu, dan sorot memori ku akan cukup tersiksa untuk mengingatnya.

Mungkin aku harus istirahat dulu, dan berharap bahwa semesta menuangkannya dalam mimpi ku agar aku dapat mengingat dan menuliskannya kembali, dari kota yang panas tetapi aku berada di koordinat yang dingin sekali, membuatku menggigil dan susah berfikir, mungkin karena tiada kopi. Jam di sudut laptop ku menunjukkan pukul 22.45 WIB, sudah saatnya aku istirahat, karena besok akan jadi hari yang panjang untuk kembali dengan aktivitas-aktivitas usang.

Sebelum ditutup, aku ada ingat sesuatu dimomen perkenalan anak kecil itu kepada kerabat barunya, dia mengatakan namanya al-fatih, ntah itu nama akrab saja atau namanya beneran aku tidak tau, tapi ya seingatku dia dipanggil fatih.

Sedikit melanjut kisah.. Semangat..semangat..semangat hanya kata itu yang terekam oleh tangisku ketika mengingat dia waktu itu. Bermain bola pukul 12.00, dilanjutkan bermain  kelereng, sorenya terkadang mengejar layangan jika lagi musimnya, atau memancing ikan, semua dilakukan dengan tulus dan tawa, mungkin hal itu tidak pernah dirasakan oleh anak-anak komplek jaman now, tapi disitulah nikmatnya seni pertemanan di desa, tidak seperti kota yang kulihat saat ini.

Aku kembali lupa, memori ku tidak bisa menyambung utuh keseluruhan cerita, aku akan sambung ntah kapan aku mengingatnya dan ingin menceritakannya. Mataku sungguh sangat berat, seperti ada yang menggantungi untuk membujukku terlelap sambil menikmati dinginnya malam. Sebelum tidur aku akan posting di blog, cerita abstrak tanpa awal dan akhir ini. Selamat menikmati bagi yang memahami.. J