23 August 2017

August 23, 2017 0

Segelas Kopi Kaya Wejangan #1


Pagi yang cerah menyambut hari ini, sebelum memulai aktivitas, gue sempatkan diri untuk meneguk segelas kopi hitam kaya wejangan di warung kopi depan kosan.  Setiap pagi selalu ada hal baru yang dapat dipetik dari ngopi di warung ini, hal baru yang selalu gue dapat yaitu wejangan seorang bapak pemilik warung kopi ini kepada mahasiswa-mahasiswa yang datang untuk ngopi disana. Menurut gue ini sangat berguna sebagai alarm dalam berkehidupan, sekalipun gue sudah tahu atau telah menerapkan wejangan yang gue dapat dari beliau, tapi sebagai manusia terkadang kita sering lalai, mungkin karena kenikmatan yang sesaat ini atau lain sebagainya, menurut gue ini bisa menjadi alarm untuk gue bangun dari tipu muslihat dunia, dan kembali kejalan yang benar. 

Sedikit rangkuman segelas kopi hitam kaya wejangan pagi ini. “Mungkin waktu kita lebih banyak habis mengomentari, menanggapi, berdebat, bahkan meributkan hal-hal yang mungkin tidak sepenuhnya kita pahami. Teramat penting untuk memahami persoalan, terlebih isi yang akan kita bicarakan. Ketika tidak memahami persoalan memungkinkan masalah tidak terselesaikan, justru malah bertambah. Kurang pahamnya kita akan konteks yang dibicarakan dan ketidaklengkapan informasi yang kita terima, terkadang membuat kita jadi berburuk sangka, sehingga akan menimbulkan energi negatif dan berdampak kurang baik untuk aktivitas sosial kita sendiri.” Mungkin sebagian dari kita sering meributkan hal yang sepenuh kurang kita pahami ataupun menerima informasi mentah-mentah tanpa crosscheck terlebih dahulu dari sumber yang berbeda, menurut gue ada baiknya kita terima terlebih dahulu informasi yang kita dapat untuk kita cari tahu kebenarannya sambil memberi gestur dan respon positif kepada lawan bicara kita, seraya kita berkata jujur jika memang kita kurang memahami akan hal yang dibicarakannya, tidak ada salahnya jujur daripada kita terlalu dini untuk percaya tanpa tahu kebenaran sebenarnya akan informasi tersebut. Hal ini sendiri menjadi alarm untuk gue lebih baik lagi kedepannya dan lebih berhati-hati dalam menerima informasi ataupun memberi reaksi.😊

Dimulai dari tegukan terakhir dari gelas kopi ini hingga beberapa waktu kedepan menjadi komitmen gue untuk lebih banyak meluangkan waktu dalam bermuhasabah (menelisik diri), karena cara paling selamat dalam menyikapi berbagai persoalan adalah dengan meluangkan waktu untuk berhening, berdialog diri, memaknai tujuan hidup, dan mengkaji kesejatian diri.

16 August 2017

August 16, 2017 0

Kapan ya kegagalan ini berakhir ?

Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan, mungkin beberaapa diantara kita tidak cukup kuat menghadapi yang namanya kegagalan, dimana seorang manusia yang telah beberapa kali mencoba untuk berhasil tapi tetap aja gagal. Kegagalan bisa mematahkan semangat, menyalahkan diri sendiri, bahkan menyalahkan sang pencipta akan kondisi diri mereka yang selalu gagal. Tapi, tidak sedikit juga bagi sebagian orang menjadikan kegagalan ini menjadi bahan untuk instropeksi diri sendiri akan semua yang terjadi dan mengerti kemana harus berjalan menjauh dari kegagalan tersebut.

Menurut gue kenapa kegagalan demi kegagalan yang dilalui ini bisa menimbulkan tekanan untuk batin dan pikiran seseorang, mungkin ada beberapa faktor, salah satu faktor terbesar menurut gue lingkungan dia seperti keluarga yang terlalu berharap lebih kepadanya, atau teman-temannya yang jauh lebih baik ketimbang dirinya dalam mengarungi kehidupan sehingga membuat dia ingin jalan hidupnya mendapatkan kemudahan seperti kebanyakan orang yang dia lihat. Hal itu bisa juga ditambah faktor eksternal lainnya seperti faktor ekonomi, sosial, dan teknologi.

Banyak dari kita mungkin merasa stres akan semua kegagalan dan tekanan tersebut menurut gue itu karena sel sel Iman kita yang kosong. Mungkin dari kita telah berusaha keras untuk berhasil, tapi terkadang kita lupa sama yang di atas, Allah SWT. Kita terlalu sibuk mengurus kehidupan dunia, mengurus jalan keberhasilan kita di dunia, tapi kita tidak menghadirkan Allah di tengah-tengah usaha kita tersebut. Gaes, Allah itu tau yang terbaik untuk kita, ketika kalian mulai dekat dan merasakan ketenangan yang indah, ketika ibadah bukan lagi menjadi suatu kewajiban tapi kebutuhan bahkan di level lebih dari itu, kalian pasti akan mendapatkan kacamata positif dalam melihat suatu masalah dari perspektif yang beda dari yang dulu kalian lihat, pasti akan ada suatu ketenangan dan keadaaan biasa-biasa saja ketika kalian menerima kenyataan “ ya, saya gagal”. Ketika gagal kembali lagi kepada Allah, berdoa kepada Allah, jangan pernah bosan dalam berdoa, karena Allah senang kita selalu meminta kepadanya, gue yakin ketika kalian telah menjalani semua itu kalian bakal mendapat suatu jalan menuju doa kalian, tinggal kita lagi yang harus peka terhadap kode yang Allah berikan, karena semua ada proses yang mesti kita lalui.

Ketika seseorang sering menerima kegagalan, terkadang kegagalan itu jika kita lihat dari sisi positif, kegagalan itu membuat kita semakin berkembang, kegagalan itu semakin menambah pengalaman kita, sehingga secara perlahan gue yakin kalian akan berhasil, selalu jadikan kegagalan sebagai media kita untuk belajar, dan yakinkan jiwa kalau Allah tau yang terbaik untuk kita, selalu hadirkan dia maha pengabul doa disetiap usaha yang kita lakukan. Insya Allah semua akan indah pada waktunya, jika yang terjadi tidak sesuai dengan doa yang kalian minta, yakinlah hasil yang kalian terima pasti itu yang terbaik.

Jangan menyerah, dibalik setiap usaha itu pasti ada garis finish nya, gue yakin itu karena terkadang diantara kita banyak yang menyerah dipertengahan jalan, jadi gini terkadang kita memiliki keinginan akan sesuatu, setiap usaha yang kita lakukan untuk mendapatkannya sering kali tidak berhasil lalu membuat kita menyerah dalam mengejarnya. Jadi keinginan tersebut bisa dikatakan gagal untuk didapatkan jika kita menyerah dipertengahan jalan. Menurut gue sifat mudah menyerah ini adalah sesuatu yang kurang tepat, terkadang Allah itu menguji kita untuk mendapatkan keinginan itu dengan jalan yang cukup panjang. Misal gini, Allah tau ni yang terbaik untuk si A dan si B, misal si A udah 5x mencoba tapi gagal terus, sedangkan si B hanya 3x mencoba tapi sudah berhasil, sehingga si A menyerah karena merasa tertekan dan malu dengan si B, membuat si A menjadi minder. Sifat ini kurang tepat menurut gue, harusnya si A terus mencoba karena Allah bisa saja membuat skenario indah dengan memberikan banyak kegagalan kepada si A untuk memantaskan dirinya, jikalau si A terus mencoba mungkin dipercobaan ke-7 dia akan berhasil, baiknya kita sabar dalam berusaha jangan mudah menyerah dipertengah perjuangan, karena setiap manusia punya masanya dan punya bilik waktunya masing-masing.

Ketika semua usaha dan doa telah dilakukan, hal ini pasti akan ada muaranya, yang disebut “keberhasilan”, ketika semua telah tercapai, terkadang ya namanya sifat manusiawi sangat mudah untuk berpuas diri, menurut gue kita jangan mudah berpuas diri, teruslah belajar, belajar, dan belajar. Jangan pernah menganggap diri kita merasa lebih, terlalu sempit dan arogannya diri ini jika merasa lebih baik dari orang lain dengan keberhasilan yang telah diraih, menurut gue perbanyak jalan-jalan dan membaca sih agar kita tahu kalau di luar sana ada jutaan orang yang lebih dari kita yang puas akan semua keberhasilan yang kita punya saat ini, karena dengan perbanyak jalan-jalan yang jauh dan membaca kita tahu kalau kita belum ada apa-apa, dan tetap merasa rendah bumi.

Suatu hal yang mungkin perlu disadari, terkadang manusia ini lupa sama yang maha memberi ketika mereka diberi kesenangan, terkadang manusia lupa bagaimana merengeknya dia meminta sama Allah yang maha memberi saat mereka berusaha dulu, saat mereka mengalami keadaan dibawah, saat mereka menangis dipertengahan malam menadahkan tangan kepadanya. Apa sekarang kalian masih rutin melakukan hal tersebut ketika semua yang kalian inginkan sudah terpenuhi? Gue harap iya, jangan pernah dibuat terlena akan duniawi, karena ini hanya persinggahan sesaat, dunia ini merupakan ujian, suatu ujian yang kita lihat hasilnya di akhirat kelak.

***
Oh ya, gue nulis ini berdasarkan pengalaman gue, curhatan orang-orang ke gue, dan lingkungan yang gue pernah lalui. Jadi jangan digeneralisir ya gaes, karena gak semua orang seperti yang gue paparin di atas, tapi buat kalian yang pernah merasakan hal yang sama, yokk.. kita sama-sama belajar dan intropeksi diri kita masing-masing. Happy blogging 😊

Setiap Orang Punya Jatah Gagal. Habiskan Jatah Gagalmu Saat Muda - Dahlan Iskan

15 August 2017

August 15, 2017 0

YEAAPP… I AM AN INSTAGRAM JUNKIE !!!



Gue mau membahas tentang salah satu hal yang lagi booming saat ini, yaitu Instastories nya Instagram. Gue coba bahas dari sudut pandang gue ya, karena yang namanya pendapat pasti setiap orang tidak sama.

Gue salah satu pemakai setia aplikasi Instagram, terutama saat lagi ada waktu kosong gue biasanya buka yang namanya Instagram, menurut gue Instagram merupakan salah satu aplikasi yang informatif, sangat membantu gue yang jarang sekali membeli koran dan menonton TV ini dengan cara memfollow akun-akun berita yang ada. Eittss tapi jangan salah, menurut gue juga makhluk Instagram ini ibarat pisau bermata dua, dia bisa jadi sangat berbahaya ketika kita lalai dan kurang cermat dalam menggunakannya.

Bicara mengenai Instastories, menurut gue ya makhluk ini menjadi candu yang membuat banyak orang lalai, mereka terperangkap dalam dunia para pengguna Instagram lainnya. Banyak kejadian disekeliling gue misalnya karena terlalu larut dalam menikmati hidup orang lain di Instastories mereka sampai lupa akan waktu. Tapi hal ini jangan di generalisir ya, gue bahas ini karena kebanyakan orang gituuu… insya allah kalian gak ya 😊

Tapi bener gak sih kalau gue bilang Instagram itu hanya masalah “WAH” sesaat, dimana setiap orang berlomba-lomba untuk tampil sempurna di depan umum. Jadi ini hanya perkara mental kita untuk menyaksikan kehidupan teman-teman kita yang “terlihat” sempurna. haha

Pernah gak sih kalian liat teman-teman kalian post di Instagram mereka momen-momen saat mereka lagi tidak distratifikasi sosialnya anak-anak millennnial sekarang, lagi makan di warteg, lagi nyuci piring di rumah misalnya hehe. Gue yakin pasti ada, tapi hanya segelintir orang. Mostly gue percaya yang kalian liat di Instagram atau instastoriesnya mereka adalah hal sebaliknya, dimana adu momen saat berada di tempat yang keren, saat lagi di luar negeri, saat lagi makan di restoran mahal misalnya, semua momen di abadikan dalam video yang berdurasi kurang dari 1 menit. Beberapa saat kemudian, “keletuk” (bunyi nada pemberitahuan Instagram), mulai berdatangan dm dari teman-teman akan momen yang baru saja diupload, mungkin oleh sebagian orang kepuasan mereka sudah tercapai karena sudah diketahui followernya akan momen tersebut dengan adanya respon dari followernya. hehe

Menurut kalian bagimana? Apakah diantara kalian ada yang terjebak dalam pola kebiasaan seperti itu? Semua kembali kepada diri kita masing-masing untuk lebih dewasa dalam bermedia sosial dan tahu batasan, mungkin kita bisa mencoba menggunakan Instagram untuk beberapa hal positif lain seperti menjadikan Instagram untuk berjualan Online Shop, kan lumayan buat jajan.. hehehe